Oleh : Hikmat Kurnia
Sahabat,
Sebuah perkenalan terkadang memang unik, tak disangka-sangka, bahkan menampakan sebuah kejutan. "Hikmat, Anda tahu kapan terjadinya Peristiwa Sukamanah?" tanya Anda pada saya. Terus terang pertanyaan itu sangat mudah saya jawab. Alasanya sepele, Peristiwa Sukamanah menjadi topik dari skripsi saya. Tentu saja saya tahu siapa tokohnya, waktu terjadinya, latar belakang peristiwa, dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Saya tidak tahu, apakah pertanyaan itu bersifat formalitas atau memang Anda sedang menguji saya. Saya juga tidak tahu apakah hanya gara-gara jawaban itu atau karena hal lain saya diterima jadi staf editor di penerbitan dalam kelompok Trubus. Namun yang pasti, hanya gara-gara bekerja di penerbitan buku tersebut, saya jadi dekat dengan Anda yang waktu itu menjadi kepala editornya.
Uniknya, sebagai orang yang bertugas melakukan wawancara, Anda menyatakan saya diterima di perusahaan penerbitan buku tersebut, tetapi juga diminta mendatangi salah satu kantor yang juga lagi mencari editor. Saya tidak pernah tahu apa maksud Anda dengan tugas itu: apakah Anda memang sedang menguji keseriuasan saya untuk bekerja sebagai editor atau memang berniat berkelit untuk tidak menerima saya. Yang pasti, satu bulan sejak tanggal perkenalan tersebut saya mulai berkantor di Jalan Gunung Sahari III/7. Tepatnya 2 Desember 1991.
Di sebuah gedung yang berlantai empat, kita mulai berdiskusi, berdebat, dan bekerja bersama-sama. Sejak saat itu pula saya mulai belajar dari Anda tentang aspek produksi penerbitan buku. Bagi saya, Andalah orang pertama yang telah "mencemplungkan" saya dalam dunia penerbitan buku. Dunia itu terus terang sangat memesona saya. Selama ini, saya hanya mengenal buku sebagai sebuah barang tempat menggali pengetahuan; sebagai media belajar dalam membuka cakrawala berpikir dan menambah wawasan.
Sejak itu pikiran saya dibuka dan diperkenalkan bahwa buku ternyata bisa berubah menjadi sebuah komoditas dalam mata rantai industri buku. Saya jadi disadarkan bahwa dibalik sebuah buku ada proses kerja yang menyertainya. Dari Andalah saya belajar tentang penerbitan buku, terutama yang menyangkut aspek produksi. Mata saya mulai melek terhadap proses penaskahan buku, masalah editorial, perwajahan, sampai bagaimana buku bisa dicetak secara massal. Buku ternyata bisa juga menjadi faktor produksi, pemasaran, keuangan, bahkan bersangkut paut dengan pengelolaan sumber daya manusia.
Karena Anda baru saja pulang dari luar negeri, bisa jadi pengalaman dan ide Anda begitu meluap. Anda mengajari saya kecepatan bekerja. Waktu itu dengan hanya memiliki satu editor, setiap bulannya Puspa Swara menerbitkan enam sampai delapan judul per bulan. Terlepas dari aspek pemasarannya yang agak tersendat, pola kerja seperti itu telah membuat saya terbiasa dengan sesuatu istilah yang namanya deadline. Anda tidak saja mengajari saya bekerja dengan cepat, tetapi mengajak berlari dalam berkarya. Walaupun napas terkadang tersenggal-senggal dan kecermatan atas naskah sedikit terabaikan, tetapi pola kerja seperti itu yang membikin saya terbiasa bekerja dibawah tekanan.
Saat itu Anda menggagas penerbitakan buku saku dengan seri "Menggebrak ". Judul yang saya ingat adalah Mengebrak Dunia Pemasaran, Mengebrak Dunia Konsultansi, Mengebrak Dunia Akuntansi, bahkan Anda turut mengarang satu buku dengan judul Menggebrak Dunia Mengarang. Karena seri itulah teman-teman sekantor terkadang membuat guyunan, bahwa penerbit yang Anda pimpin kerjaannya hanya menggebrak-gebrak, bikin kaget orang lain, setelah itu ngeloyor pergi.
Mas Eka, begitu biasa saya memanggil Anda. Waktu memang terus berjalan. Roda kehidupan terus saja berputar. Anda yang mengajari saya tentang perbukuan, ternyata tidak cukup tahan untuk menggelutinya. Empat bulan sejak saat terlibat dalam dunia perbukuan, Anda malah meloncat pada dunia yang lain. Anda berhenti sebagai kepala editor Puspa Swara, begitu nama perusahaan penerbitan itu kini dikenal. Anda memilih bekerja di UNDP. Bisa jadi memang perusahaan tempat kita bekerja terlalu sesak untuk bisa menampung ide-ide Anda yang melimpah, meledak-ledak, bahkan terkesan tidak umum. Empat bulan memang bukan waktu yang memadai untuk belajar tentang penerbitan buku. Namun, waktu sesingkat itu telah memberi saya pelajaran yang sangat berharga. Tidak saja dalam dunia penerbitan buku, juga dalam membangun karakter dan menumbuhkan motivasi.
Dalam urusan memotivasi orang, saya yakin Anda punya talenta yang luar biasa. Anda punya energi yang sangat melimpah untuk menumbuhkan kepercayaan diri seseorang. Anda yang selalu bicara penuh energi, bersemangat, dan selalu mampu menumbuhkan sesuatu yang tersembunyi dalam diri seseorang. Bisa jadi karena kemampuan inilah Anda biasa dengan mudah mengetahui kepribadian orang setelah orang tersebut bercakap-cakap dengan Anda. Saya yakin, jika Anda sudi berkarya dalam bidang pengeloaan dan pengembangan sumber daya manusia, Anda orang yang sangat mumpuni.
Talenta itu cukup terbukti ketika Anda mengajak teman-teman sekantor di Bina Swadaya (ini nama resmi dari perusahaan induk kelompok Trubus) untuk ramai-ramai menulis puisi. Berbagai orang dengan aneka ragam jabatan Anda 'paksa' menulis puisi. Pak Yitno yang sehari-hari bersentuhan dengan uang tagihan, tiba-tiba saja mampu membuat puisi. Seorang petugas keamanan juga merasa cukup pede untuk menuliskan kegelisahannya dalam bentuk puisi. Hebatnya di buku itu, muncul juga penyair beneran seperti F. Rahardi, yang terkenal dengan buku kumpulan puisi Sumpah WTS. Buku kumpulan puisi karya orang kantoran itu diberi judul Catatan Gunung Sahari, dan Anda menunjuk Aris Nugraha, yang waktu itu bekerja di bagiaan promosi Majalah Trubus dan kini dikenal sebagai penulis dan sutradara sinetron komedi Bajaj Bajuri, sebagai editornya. Buku itu setidaknya memberi keyakinan pada teman-teman Bina Swadaya bahwa setiap orang pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menulis puisi. Artinya, untuk menjadi penulis, apa pun bentuknya ternyata lebih membutuhkan kerja keras daripada bakat.
Atas kesepakatan Anda dengan Mas Anton**, sang Direktur Puspa Swara, ternyata Anda masih sudi untuk tidak meninggalkan kami begitu saja. Dengan kepergian Anda, yang tersisa di Puspa Swara hanyalah Mas Anton yang merangkap jabatan di perusahaan lain, Joesi Endah, Rofingi, Supari, Mas Didiet, dan saya. Ternyata walaupun Anda tidak lagi terlibat dalam keseharian dan rutinitas penerbitan buku, toh Anda masih bersedia menjadi konsultan dan kepala editor non aktif di Puspa Swara selama satu tahun. Bahkan, ketika ikatan formal satu tahun terlewati, Anda terus mengajari, mengkritisi, dan memberi masukan pada kami sampai bertahun-tahun.
Dalam kurun waktu itu, saya yang sangat awam dalam dunia buku tersihir dengan pengetahuan dan keluasaan pandangan Anda tentang perbukuan. Anda yang baru pulang dari Amerika, setelah selesai mengajar di Cornel University, ternyata mempunyai daya magis yang cukup kuat bagi saya. Barangkali karena pesona pribadilah, saya memilih untuk menjadi editor dan menjadi staf Anda. Ketika itu nama Puspa Swara sama sekali belum dikenal di dunia penerbitan buku. Seingat saya, sebagai penerbit Puspa Swara belum banyak menghasilkan buku. Buku yang dihasilkannya tidak lebih dari hitungan jari tangan. Padahal, dalam waktu yang bersamaan ketika pertama kali ketemu dalam wawancara penerimaan karyawan, saya sedang menjalani proses seleksi di perusahaan lain, dan saya pikir namanya jauh lebih dikenal dibangdingkan dengan Puspa Swara. Bisa jadi ekspresi, gaya bicara, dan pesona Andalah yang memberi keyakinan pada saya bahwa apa yang saya putuskan untuk bergabung di perusahaan tersebut adalah pilihan yang benar.
Sahabat,
Bekerja pada satu perusahaan memang urusan kesepakatan. Urusan kontrak kerja. Bisa jadi bekerja hanyalah sebatas gaji atau kepentingan pragmatis lain. Walaupun banyak juga orang yang berpandangan bahwa kerja adalah urusan kepuasan. Saya kurang tahu, bagaimana pandangan Anda tentang bekerja. Yang saya tahu, Anda seringkali dan dengan mudah berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Seingat saya, setelah tidak secara formal bekerja di Puspa Swara, Anda pernah kerja di UNDP, Dana Mitra Lingkungan, Aqua, dan entah apa lagi.
Di saat jumlah pencari kerja membludak dan kesempatan kerja sangat terbatas, Anda dengan mudah keluar masuk sebuah kantor. Aneka jabatan pernah Anda pegang, mulai dari pegiat LSM sampai eksekutif perusahaan besar. Walaupun saya tahu, Anda bekerja di sebuah perusahaan bisa-bisa seumur jagung lamanya. Mungkin kalau dalam bahasa ibu saya (bahasa Sunda), gaya pindah-pindah tempat kerja itu diistilahkan dengan hejo tihang. Walaupun tempat Anda bekerja berpindah-pindah, dunia kepenyairan sepertinya tidak bisa lepas dari diri Anda. Anda terus saja berpuisi, dan menulis apa saja kejadian yang Anda alami. Dari puisi Andalah sayajadi tahu gagasan, pikiran, dan harapan-harapan Anda.
Sangat mudahnya Anda mendapatkan pekerjaan setelah saya pikir-pikir bisa jadi karena Anda punya kemampuan luar biasa dalam mencari teman. Anda dengan mudah bisa berteman dengan berbagai orang dari berbagai kalangan. Seorang satpam Bina Swadaya tentu masih ingat Anda, walaupun Anda tidak lagi bekerja di tempat itu. Begitu juga dengan orang Administrasi di Percetakan Penebar Swadaya yang ketemu Anda sekali-kali tetapi rajin membaca buku karya Anda. Tentu saja beberapa tokoh nasional sangat akrab dengan Anda. Kenyataan itu meyakinkan diri saya bahwa Anda selalu mampu menggali nilai positif dari setiap orang, sehingga apa yang Anda ungkapkan bisa jadi masih tersimpan dalam ingatan orang-orang yang Anda temui.
Mas Eka,
Ketika saya menikah terus terang saya tidak punya kemampuan untuk merayakan pernikahan saya di sebuah restoran yang cukup baik di Jakarta. Bahkan, untuk merencanakannya pun saya tidak terpikirkan. Dua hari setelah kembali dari Bangka, saya dikejutkan karena Anda bersama teman-teman di Puspa Swara bikin acara untuk merayakan pernikahan saya. Tiba-tiba saya dan istri diminta datang di sebuah restoran di Menteng. Hebatnya, di restoran itu telah berkumpulan teman-teman kantor dan beberapa teman pengarang seperti Handrawan Nadesul, seorang dokter yang hobi menulis. Anda tidak saja mentraktir kami dengan makanan yang lezat, tetapi Anda sudah berperan lebih dari seorang sahabat, Anda seperti orangtua saya. Kejutan itu terus terang sangat membahagiakan kami. Kami yang seharusnya mengundang teman-teman untuk merayakan peristiwa pernikahan kami, justru malah ditraktrik Anda. Kejadian itu kini selalu menjadi kenangan kami, dan kelak kami akan menceritakannya pada ketiga anak laki-laki kami bahwa kami mempunyai searang sahabat yang sangat luar biasa.
Kini di usia yang lima puluh tahun, saya yakin Anda telah memberi kenangan-kenangan manis tidak saja bagi saya sekelurga tetapi bagi banyak orang. Kebaikan, motivasi, dan pelajaran hidup yang Anda berikan pada bisa jadi sangat mempengaruhi gerak langkah saya. Bahkan, "pelajaran empat bulan dalam dunia perbukuan", justru menjadi modal saya untuk mengeluti dunia perbukuan, sebuah dunia yang kini saya tekuni sepenuhnya. Terima kasih Mas Eka, semoga Anda bersama Mbak Melani dan ketiga putra-putri Anda selalu diberkahi kehidupan yang baik. Selamat ulang tahun. Sukses selalu menyertai perjalanan hidup Anda. Amien.
-------------------------------
*Tulisan ini untuk merayakan seorang pribadi yang luar biasa: Eka Budianta
** Selain Eka Budianta, ada Anthonius Riyanto dan F. Rahardi yang mengajari saya seluk beluk dunia perbukuan. Kepada ketiga orang tersebutlah saya menaruh hormat.


