Hikmat Kurnia, Direktur Agromedia Pustaka
Saya lahir di Bandung pada 3 September 1967, dan menyelesaikan pendidikan S1 dari UNPAD Jurusan Sejarah tahun 1991. Saya tidak memiliki latar belakang keluarga pengusaha, karena ayah saya adalah seorang pegawai negeri. Semasa SMA, saya memang tinggal di rumah kakak yang seorang pedagang. Dari sinilah saya banyak belajar bagaimana melayani dan menata hubungan dengan orang lain, serta mendapatkan berbagai ilmu hidup lainnya. Setelah lulus kuliah, saya sempat mengajar sebagai asisten dosen selama enam bulan di almamater saya. Namun kondisi ini teramat berat. Di samping keuangannya tidak terlalu menggembirakan, peluang saya menjadi pegawai negeri masih lama. Karena itulah saya memutuskan turun ke Jakarta, dan kemudian mendapatkan pekerjaan di sebuah grup penerbitan yang juga menerbitkan majalah pertanian Trubus.
Sambil bekerja di penerbitan ini, saya sempat mengambil kuliah di Pascasarjana UI tahun 1998, Jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia. Namun kuliah kedua ini tidak saya rampungkan. Ini berkaitan dengan kondisi hidup saya yang mulai merintis usaha sendiri. Tapi sebelum itu, saya perlu menjelaskan, bahwa kerja penerbitan yang saya tekuni hampir sembilan tahun di grup penerbitan buku-buku pertanian dan umum itu, sebenarnya bukan masalah asing bagi saya. Semasa mahasiswa, saya sudah terbiasa menulis artikel maupun resensi. Dari kegiatan ini saya tidak saja mendapatkan uang tambahan untuk membeli buku-buku dan jalan-jalan, tapi yang terpenting mengenali dan selanjutnya berada di antara komunitas para penulis maupun penerbit. Saya mengetahui buku bagus, penulis bagus, dan banyak penulis untuk berbagai bidang pengetahuan. Hal ini berperan besar dalam perkembangan saya bertahun-tahun kemudian, ketika akhimya berani membuka usaha sendiri.
Di penerbitan tempat saya bekerja itu, saya masuk dari posisi editor, hingga bertahun-tahun kemudian berhasil mencapai posisi direktur. Perusahaan itu kebetulan adalah anak perusahaan yang baru berdiri, hingga saya memiliki kesempatan ikut membangun dan mengembangkannya. Saya harus membangun konsep kerja perusahaan, visi-misi, mengelola brand, mencari modal, membagun jaringan dengan penulis, toko buku, separasi, toko kertas, maupun percetakan. Dan secara ekonomik, tentu saja saya mendapatkan jaminan hidup yang lumayan. Tapi, karena situasi kantor masa itu kurang memadai bagi impian saya memiliki usaha sendiri, saya pun meninggalkannya.
Ketika melepaskan pekerjaan ini, saya tak pernah terpikir akan terjun ke bisnis lain kecuali penerbitan. Karena menurut saya, orang yang mau berhasil dalam bisnis, haruslah menekuni bidang usaha yang dipahaminya. Usaha itu memang mulanya mencoba-coba, tapi setiap risiko haruslah bisa diukur. Mulai dari risiko kegagalan, hingga berapa peluang keberhasilannya. Kalau orang tidak punya persiapan menghitung risiko, menurut saya, sama saja dengan bunuh diri. Nah, masa itu, saya yakin akan berhasil, karena setiap risiko sudah saya hitung. Saya juga memiliki konsep yang jelas tentang bisnis penerbitan dan distribusi yang akan saya kerjakan. Yakni, hares berbeda dengan penerbit yang sudah ada: dengan menerbitkan lebih cepat, lebih banyak judul, dengan mutu dan tampilan lebih bagus.
Saya pun memulai Agromedia Pustaka, pada bulan April tahun 2001. Saya mengawalinya berdua saja dengan seorang office boy (OB). Maklum, saya hanya mampu menyewa sebuah ruangan kecil untuk kantor. Dari sana saya bergerak sendiri menghubungi para penulis, mencari naskah, mengedit, membawa ke separasi, membawa ke percetakan, kemudian mengantarnya ke toko buku. Sampai bulan Juni 2001, barulah saya mampu berproduksi dan menggaji orang. Itu pun dengan bayaran harga pertemanan, karena saya memang banyak dibantu teman-teman.
Di antara orientasi yang berbeda-beda dari setiap penerbit, secara tidak langsung orang mudah mengenali, penerbit A akan menerbitkan buku-buku jenis A, penerbit B jenis buku B, penerbit C jenis buku C, dan seterusnya. Jadi, dalam bisnis penerbitan, kita tinggal memilih jenis buku apa yang akan kita kembangkan sebagai produk utama. Karena pernah bekerja bertahun-tahun di grup penerbit yang menghasilkan buku-buku pertanian, saya pun mengarahkan penerbitan saya pertama-tama ke buku-buku pertanian yang bersifat petunjuk praktis. Untuk dunia buku jenis ini, sudah ada kebutuhan judul-judul yang tetap, seperti Perkutut, Koi, Ramuan Tradisional, dll.
Setelah berdiri setengah tahun, masa itu saya juga berhasil menggaet seorang rekanan dad grup kantor lama, Mas Antonius, yang ahli dalam bidang pemasaran, distribusi, dan keuangan. Saya sendiri merasa lebih paham dalam bidang produksi dan mengelola SDM. Maka, kerja sama kami kemudian membuat Agromedia tumbuh lebih dinamis. Saya memang tidak punya uang banyak, tapi saya punya teman-teman, jaringan, nama baik, dan kawan-kawan yang bisa diutangi. Modal inilah yang saya pakai. Awalnya, pinjam sana pinjam sini, tapi lama-kelamaan tidak enak terlalu lama meminjam. Akhimya, dalam perjalanannya, Agromedia yang kemudian membesar, bukan lagi milik saya pribadi. Tapi milik bersama dengan teman-teman, yang mempercayakan uangnya kepada saya.
Modal memang penting, namun ternyata bukan segala-galanya. Dengan begitu, berbisnis dalam pengalaman saya adalah, berusaha membangun hubungan baik dengan teman-teman pemodal. Dan persoalan modal inilah yang menjadi tantangan menyolok pada tahun pertama. Namun akhirnya teratasi dengan menjadikan teman-teman yang meminjami saya sebagai sesama pemilik. Lalu, persoalan kedua, karena Agro masih penerbit baru, tentu mengalami kesulitan dalam menunggu naskah. Untuk ini, saya pun mengupayakan jalan keluar dengan mengirimkan para penulis mewawancarai para pakar dan praktisi. Hingga, saya kemudian memiliki banyak judul buku, seri Anda Bertanya Pakar dan Praktisi Menjawab. Khusus untuk penerbitan seri ini, saya mengirimkan teman-teman penulis untuk mewawancarai para pakar dan praktisi pertanian yang kurang pandai menulis.
Apa yang saya dapatkan dart kantor lama adalah pemahaman, bahwa buku tidak semata-mata instrumen sumber pengetahuan, tapi juga komoditas yang secara ketat berkaitan dengan distribusi, menjaga hubungan dengan pengarang, dan berproduksi. Bahwa industri buku, sungguh memerlukan adanya hubungan yang baik dengan orang lain. Karena modal buku, sebenarnya bukanlah uang atau kapital, melainkan jaringan. Kita harus berteman dengan banyak orang, mulai dari penulis yang menjadi kunci awal penerbitan, berlanjut dengan orang-orang lain dari percetakan, separasi, toko kertas, juga toko buku.
Ada pun hal yang membuat saya kukuh melangkah, pertama-tama adalah adanya fakta, bagaimana buku-buku pertanian sampai saat itu hanya digarap oleh dua penerbit. Yang penama menggarapnya tidak serius, sedangkan yang kedua ketinggalan dalam penataan tampilan. Kemudian saya terpikir, rasanya tidak akan sulit menjadikan penerbit saya menempati posisi ketiga. Dan karakter penerbit buku-buku pertanian waktu itu juga lambat mengantisipasi isu. Misalnya, isu yang popular di masyarakat adalah Koi, atau Lohan, namun datangnya buku-buku tersebut baru empat bulan kemudian, ketika pasar sudah ramai oleh isu lain. Di dunia pertanian, juga ada istilah tren. Misalnya tren Lohan, tren Lidah Buaya, tren Mahhota Dewa, dan tren lainnya. Nah, kalau buku-bukunya terlambat empat bulan, kan percuma saja.
Dalam mengantisipasi inilah, saya mengambil langkah berbeda dari penerbit konvensional. Saya tidak lagi menunggu, tapi mengejar penulisnya secara cepat. Saya berpikir, saya bisa masuk dan berhasil dengan syarat, bila saya membawa faktor kecepatan; cepat mengantisipasi kondisi. Ketika ada tren Cupang, kita sudah siap. Saya bahkan pernah berhasil masuk ke pasar dengan delapan judul Cupang. Hasilnya cukup bagus. Lalu, untuk buku-buku judul abadi dunia pertanian dan buku-buku baru saya, saya sengaja menampilkan cover menyolok. Bila buku-buku dunia pertanian selama ini cenderung bercover warna hijau, saya mengeluarkan buku-buku bercover warna putih. Eye catching. Selanjutnya, saya juga mencari jalan keluar dari kendala rendahnya minas baca. Menurut saya, hal ini berkaitan dengan kemampuan daya beli. Maka, kesimpulannya, harga buku harus diturunkan, agar pembeli yang dituju mampu membelinya.
Jadi, kami memang memasuki pasar dengan beberapa tawaran inovatif. Kebetulan, saya juga tidak mengalami kesulitan memasukkan produk kami ke toko buku. Sebab, saya sudah lama menjalin hubungan baik dengan toko-toko buku. Ini pula alasan kami untuk terns bertahan di bidang penerbitan. Sebab, bila kami juga membuka toko buku, tentunya toko buku lain akan keberatan menerima buku-buku terbitan kami. Begitu pun, kami tidak akan membuka percetakan, karena akan mengurangi kebebasan kami dalam menerbitkan buku. Misalnya, kami akan menerbitkan 40 judul buku. Bila harus ke percetakan sendiri, terpaksa hares mengantri. Padahal, bila kami mencetakkannya ke beberapa percetakan relasi, kami akan mendapatkan barang jadi dalam waktu bersamaan. Buku-buku kami dapat memasuki pasar secara simultan. Sekaligus, kami tetap fokus dengan bisnis penerbitan dan distribusi.
Hingga dalam perjalanan lima tahun kini, Agromedia yang telah menerbitkan 900-an judul buku, telah pula memiliki anak-anak perusahaan: KawanPustaka (penerbit buku umum), GagasMedia (penerbit buku popular), QultumMedia (penerbit buku Islami), WahyuMedia (penerbit buku anak-anak). Dengan kantor-kantor cabang dan represetantif di berbagai kota provinsi Indonesia, termasuk sebentar lagi, di Papua. Semoga kerja keras kami semua, kini sekitar 200-an orang tenaga pendukungnya, membuahkan basil positif bagi kami dan juga segenap pembaca. (ARTA/Photo: M.I. Mappasenge)
Sumber: Senior
http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/common/ptofriend.aspx?x=Entrepreneurs&y=cyberjob%7C0%7C0%7C6%7C155


