Kesuksesan adalah hasil dari kesempurnaan, kerja keras, belajar dari kegagalan, loyalitas, dan ketekunan
Colin Powell, Mantan Menteri Luar Negeri AS
Enam tahun lalu pada bulan Maret 2001, saya memutuskan untuk berhenti bekerja dari kantor lama. Waktu itu saya bekerja sebagai direktur di sebuah penerbit dalam kelompok Trubus. Di kantor itu saya telah bekerja hampir sembilan tahun. Teman-teman saya tidak habis pikir dengan keputusan tersebut. Bagi mereka ini adalah sebuah keputusan yang memang “agak keluar dari kelajiman”. Dari sisi penghasilan sudah sangat memadai. Begitu juga dari sisi fasilitas: saya memperoleh kendaraan yang cukup baik. Memang ada situasi kantor yang kurang kondusif waktu itu, tetapi keputusan untuk menyatakan keluar sama sekali diluar nalar mereka. Pertanyaannya: ada apa sebenarnya yang saya cari sebagai konsekuensi dari keputusan tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan itu memang tidak mudah, karena jawabannya bukan terletak pada kenapa tetapi bagaimana saya mempertanggungjawabkan keputusan tersebut. Celakanya ini sangat berkaitan dengan proses saya menjalani hari-hari setelah itu, dan hanya waktu yang bisa membuktikan apakah keputusan saya itu benar atau salah. Waktu itu tidak ada teman yang percaya bahwa saya telah mengambil keputusan yang baik. Mereka meminta saya untuk berpikir ulang dan memimbang-nimbang kembali. Bahkan, ada teman istri saya yang menyatakan saya agak kurang waras. Sarannya: saya dianjurkan mengambil cuti panjang, karena mungkin saya jenuh dengan pekerjaan.
Keraguan teman-teman memang sangat beralasan. Untungnya istri saya sangat percaya pada keputusan tersebut. Mungkin istri saya sudah memahami karakter dan kebiasaan saya. Istri saya cukup yakin bahwa keputusan tersebut adalah keputusan tepat, atau mungkin juga tidak ada alternatif lain bagi istri saya selain mendukung keputusan suaminya yang agak diluar keumuman.
Karena sebuah impian
Walaupun cukup sulit menjelaskannya waktu itu, keputusan saya itu sebenarnya bermuara pada keinginan untuk mewujudkan sebuah impian. Waktu itu saya sangat yakin bahwa saya bisa mendirikan dan mengelola penerbitan sendiri. Impian itulah sebenarnya bisa terwujud jika saya memang benar-benar melaksanakannya. Kata orang bijak: dream come true if you make it happen. Hanya kitalah yang bisa mewujudkan impian itu menjadi kenyataan.
Masalahnya adalah bagaiaman supaya impian itu terwujud. Kata para pemikir yang sangat yakin akan keampuhan otak kanan, menyatakan bahwa ada tiga hal yang membuat impian bisa terwujud: fokus, detail, dan dapat diukur. Ketiga hal itu harus bisa dijabarkan secara nyata.
Bagi saya yang telah terbiasa dengan dunia penerbitkan buku, memaknai fokus berarti usaha apa yang sebenarnya saya kuasai. Selama hampir sembilan tahun saya telah “nyantik” di penerbitan buku. Saya mulau merintis karier sebagai editor. Hampir semua bidang dalam industri buku saya pahami, walaupun saya lebih menguasai bidang editorial dan pengelolaan sumber daya manusia. Bidang keuangan dan pemasaran saya hanya memahaminya saja tetapi kurang menguasai detailnya. Bahkan, sejak mahasiswa saya sudah bersinggungan dengan industri penerbitan buku. Untuk mengakali kiriman uang yang terbatas, saya membuat berbagai tulisan. Salah satunya resensi buku. Dari situlah sebenarnya pengetahuan tentang perbukuan mulai terasah.
Untuk masuk ke industri perbukuan, pilihan bidang usaha saja tidak cukup. Karena perkembangan industri buku ternyata mengarah pada spesialisasi bidang garapan. Disinilah saya memahami yang namanya detail. Saya memilih bidang pertanian sebagai sepesialisasi penerbitannya. Dan supaya dapat diukur tingkat keberhasilannya saya membuat target bahwa dalam lima tahun saya harus menjadi pemain industri perbukuan yang disegani.
Ternyata impian saja tidak cukup. Mendirikan usaha berarti perlu strategi untuk menjalankannya. Celakanya, untuk melahirkan strategi yang baik perlu pemahaman atas lingkungan usaha yang sama baiknya. Kita dituntut untuk memahami siapa sebenarnya kompetitor kita, bagaimana kekuatan dan kelemahannya, bagaimana kita bisa mangambil manfaat atas kelemahan yang dimiliki kompetitor, dan nilai lebih apa yang kita bisa berikan pada konsumen.
Dalam industri perbukuan waktu itu, bidang pertanian belum banyak dilirik oleh para penerbit. Para penerbit besar hanya menjadikan bidang pertanian sebagai bidang yang tidak digarap secara serius. Waktu itu hanya ada dua penerbit buku yang menjadikan pertanian sebagai bidang yang garapan utama. Pertama, penerbit Penebar Swadaya dari kelompok Trubus. Kedua, penerbit Kanisius dari Jogya. Kedua penerbit itu tergolong penerbit yang telah lama berkiprah di industri perbukan. Penerbit yang pertama berumur lebih dari 25 tahun, bahkan penerbit kedua berumur lebih dari 80 tahun.
Sebagai penerbit lama kedua penerbit itu sedang memasuki sindrom kemapanan. Waktu itu, penerbit pertama terkesan lambat dalam mengantisipasi trend yang berkembang. Mungkin secara organisasi terlalu gemuk sehingga terlalu lama mengambil keputusan. Penerbit kedua terkesan sangat kurang inovasi dan kurang berani mengambil resiko. Kedua penerbit tersebut juga kurang berani berpromosi. Mereka berpikir bahwa nama mereka sudah sangat hebat, sehingga promosi hanya berarti cost, penghamburan uang.
Namun perlu disadari, sebagai pemain lama tentu saja kedua penerbit itu sebenarnya memiliki kekuatan yang mumpuni. Mereka mempunyai modal yang kuat, jaringan yang cukup luas, brand yang sudah terkenal, sumber daya manusia yang cukup berpengalaman. Bahkan, kedua penerbit tersebut mempunyai unit pendukung seperti percetakan yang baik. Celakanya lagi, karena memiliki percetakan sendiri harga bukunya menjadi relatif murah.
Untuk masuk dan bisa bersaing dengan kedua penerbit terdahulu saya harus menyadari ada sebenarnya yang dibutuhkan pasar. Ternyata pasar sangat membutuhkan buku yang lebih inovatif dari buku yang ada, isi lebih akurat dan sesuai dengan daya serap pembaca, dan yang lebih penting faktor kecepatan. Waktu ini buku-buku pertanian tergolong lambat mengantisapasi trend yang berkembang. Kalau ada trend tanaman hias misalnya, bukunya muncul tiga sampai enam bulan yang akan datang saat trend sudah habis.
Dari pemahaman atas kondisi tersebut, ternyata yang dibutuhkan adalah sebuah konsep penerbitan yang lebih baru, prigel, cepat mengantisipasi trend yang berkembang, isi buku tidak membuat kening berkerut, berani berpromosi, pola distribusi yang lebih luas, ada kepercayaan pada penulisnya, dan harga yang tepat. Penerbit baru harus berani mengubah pola. Kalau dulu penerbit bersifat menunggu naskah. Pola seperti itu sudah tidak lagi relevan. Penerbit sekarang ini dituntut untuk lebih agresif melakukan pencarian naskah. Dia harus berani keluar kantor menjemput bola. Pola menunggu naskah harus digantikan dengan menggabungkan cara kerja dunia jurnalustik dengan dunia perbukuan.
Untuk mengantisipasi tuntutan itu dibutuhkan SDM yang berusia muda, agresif, enerjik, punya motivasi tinggi, dan berani membangun jejaring. Dari sisi produk harus berani memperluat brand, berani keluar pakem, ditulis oleh pakar atau praktisi dengan bahasa yang lebih “renyah”, dan mampu memberikan layanan purna jual. Tentu saja sebelum membuat produk harus diidentifikasi siapa target pembacanya, bagaimana cara distribusinya, dan langkah apa yang dilakukan dari sisi promosi. Begitu juga dari sisi kelayakan usaha. Berapa modal yang dibutuhkan dan skala usaha sebesar apa yang kita kuasai.
Mewujudkan impian
Pemahaman tentang industri buku dan keprigelan dari sisi konsep ternyata baru sebatas diatas kertas. Terhitung 1 April 2001 saya pun mendirikan AgroMedia Pustaka. Penerbit ini baru diurus oleh dua setengah orang: saya sendiri yang menjalankan usaha, satu orang OB kantor yang merangkap tugas macam-macam, seorang teman yang baru bisa bekerja separuh “hati” karena masih bekerja di tempat lain. Walaupun begitu, AgroMedia sebenarnya diurus banyak orang, karena saya memiliki banyak teman yang bersedia bekerja atas dasar hasil bukan jam kerja. Artinya, banyak pekerjaan yang dtangani dengan pola outsourcing. Bahkan,untuk urusan modal pun beberapa teman saweran ramai-ramai. Untuk urusan separasi dan percetakan ternyata jaringan dan nama baik sangat penting, sehingga saya tidak diwajibkan membayar dimuka, tetapi boleh ngutang.
Dengan pola tersebut, pada bulan Juni 2007 Agromedia mampu menerbitkan enam judul. Untuk urusan pemasaran Agromedia ternyata tidak kesulitan. Buku terbitan AgroMedia bisa diterima dan didisplay dengan lebih baik. Kuncinya apa? Selain jaringan dan hubungan perteman yang baik, produk AgroMedia pun memang tambil lebih gres daripada pesaingnya.
Waktu itu pola buku pertanian tergolong telah mapan. Desain covernya umumnya hijau, ukuran bukunya 14, 5 x 20,5 cm, dan bahasanya terlalu berat. Produk Agromedia tampil dengan desaian cover warna putih, tulisan menjolok mata sehingga mampu dilihat dari jarak 3 meter, dan diatasnya pakai list warna merah. Bahkan, ukurannya lebih besar 15 x 23,5 cm. Penyajiannya pun keluar dari pakem: ditulis dengan pola reportese dengan cara mewawancari pakar dan praktisi pertanian. Harganyapun dipatok kurang dari Rp 20.000,-, karena yang disasar adalah kategori impulsif buyer. Dengan pola itu, display di toko buku menjadi sangat menjolok. Display yang baik ternyata menyebankan daya serap yang baik. Keenam buku itu pun kurang dari 2 bulan mengalami cetak ulang.
Dari sisi kecepatan Agromedia ternyata mampu mengantisipasinya. Ketika muncul fenomena ikan lou han, agromedia menjadi penerbit pertama yang menerbitkan buku tentang lou han dengan judul “Lou Han, si Ikan Hoki.” Buku itu bersama dengan 8 buku lain tentang lou han telah mengalami cetak ulang belasan kali dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Begitu juga ketika muncul fenomena mahkota dewa sebagai tamanan obat yang mempunyai kandungan antioksidan. Dengan menggandeng Bu Ning Harmanto sebagai praktisi yang menggeluti tanaman ini, AgroMedia menerbitkan buku “Mahkota Dewa, Obat Pusaka Para Dewa”. Sampai kini buku ini telah dicetak ulang lebih dari 20 kali. Perhatikan judul kedua buku tersebut, gaya bahasanya sangat berbeda dengan judul buku pertanian pada umumnya: sedikit memakai pendekatan sastra.
Komitmen, Konsolidasi, dan teruslah Belajar


