HK

 
 
You are here: Kronik Buku Dicari Guru yang Penulis
 
 

Dicari Guru yang Penulis

Surel Cetak PDF

hikmatkurnia-dicariKetika novel karya Andrea Hirata Laskar Pelangi terbit dan menjadi perbincangan banyak kalangan, masyarakat disadarkan tentang potret dunia pendidikan Indonesia . Pembaca disuguhkan sebuah kenyataan di masa lalu tentang bukti adanya gap yang besar antara satu sekolah dengan sekolah lain di sebuah pulau yang kaya raya. Sekolah yang satu ternyata mendapat fasilitas yang serba baik, sementara sekolah lainnya serba kekurangan.Padahal, kedua sekolah itu berdekatan. Untungnya, murid dan guru sekolah yang serba kekurangan itu mempunyai semangat yang luar biasa. Keterbatasan tidak menghalangi mereka untuk melahirkan ide-ide kreatif.



Pembaca buku juga diberi suguhan yang sangat menarik tentang terbitnya buku Mukjizat Abad 20:  Doktor Cilik Hafal & Paham Al-Qurnan karya Dina Y. Sulaeman. Buku ini bertutur tentang sebuah metode menyenangkan untuk hafalan dan pemahaman Al-quran buat anak-anak yang telah teruji dari pengalaman Husein Tabataba’i dan ratusan bocah serupa di Iran.
Sebelumnya kita juga dikagetkan dengan terbitnya buku Totto Chan yang bertutur tentang keberhasilan sebuah sistem pendidikan alternatif di Jepang sebelum Perang Dunia II dalam mendidik anak-anak dengan pola kebebasan dan menyenangkan. Sekolah yang terbuat dari bekas gerbong kereta api dan fasilitas terbatas ternyata melahirkan lulusan yang mumpuni. Di Indonesia, buku ini menginspirasi lahirnya Sekolah Alam dan sekolah alternatif lainnya.

Dalam konteks itu yang perlu dicermati adalah pentingnya sebuah buku sebagai arena untuk berbagi. Jika Indonesia memiliki lebih banyak lagi Andrea Hirata bisa jadi dunia perbukuan Indonesia sangat berkembang. Bangsa ini jadinya kaya akan bacaan, dan semakin banyak bacaan akan semakin baik bagi kemajuan bangsa ini. Sejarah membuktikan bangsa-bangsa yang maju selalu mempunyai jumlah terbitan buku yang banyak.  Alasannya, bacaan yang baik akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Bangsa Jepang yang bisa keluar dari keterpurukannya setelah kalah dalam perang dunia kedua, menerbitkan setidaknya 100.000 judul buku baru per tahun. Di kereta-kereta api di Tokyo kita dengan mudah menemukan para penumpang asyik membaca bukunya masing-masing.
Contoh lainnya adalah India. Negara yang kini sangat maju dalam bidang IT (information technologi) menerbitkan setidaknya 60.000 judul buku baru per tahunnya. Industri perbukuan India sangat maju. Peritiwa pameran buku di Calkuta India termasuk pameran buku yang ditunggu-tunggu industri perbukuan dunia. Pameran di Calkuta ini setidaknya menjadi sepuluh besar pameran buku di dunia.

Buku Milik Semua Untuk Semua
Kalau bangsa ini mau maju, salah satu cara yang bisa menjadi pendorongnya adalah menggairahkan dunia perbukuan selain dunia pendidikan. Celakanya, dunia pendidikan sangat membutuhkan bacaan yang baik. Selama ini dunia perbukuan Indonesia berjalan di tempat. Bahkan, lebih sering muncul keluhan-keluhan tentang tidak berkembangnya dunia perbukuan Indonesia.

Coba tengok alasan yang seringkali dikemukan atas tidak berkembangnya dunia perbukuan Indonesia: rendahnya minat baca, kurangnya daya beli, susahnya mendapatkan buku, kurang pedulinya pemerintah, tidak mudahnya mendapatkan penulis, dan alasan-alasan yang sepertinya benar, padahal hanyalah bersifat pembenaran. Alasan-alasan tersebut tentu saja melemahkan motivasi dan semangat kita untuk menghadirkan bacaan yang baik bagi masyarakat. Kita seolah-olah dihadapkan pada kondisi yang sangat buruk dan sama sekali tidak bisa diperbaiki. Dunia perbukuan pun seolah-olah tidak punya peluang untuk berkembang. Sikap mencari kambing hitam inilah yang menyebabkan dunia perbukuan Indonesia hanya mampu menghasilkan buku baru sebanyak-banyak dari 12.000  judul  per tahun. Dengan asumsi satu judul dicerak 3.000 eksemplar, Indonesia hanya menghasilkan 36 juta buku setahun. Artinya, dengan jumlah penduduk Indonesia yang 250 juta, maka satu buku dibaca oleh 6-7 orang per tahun. Menyedihkan.

Jika kita perhatikan buku-buku yang terbit dan beredar di toko buku, sebenarnya kita patut prihatin. Mayoritas buku yang tersedia ternyata hasil terjemahaan dari karya penulis luar, sangat sedikit yang  merupakan karya anak bangsa. Artinya, selama ini kita cenderung menjadi konsumen. Padahal, kita tahu dari setiap buku yang terjual penulisnya mendapatkan royalti. Tentu kita masih ingat, bagaimana seorang penulis seperti J.K. Rowling mampu menghasilkan uang dari royalti buku Harry Potter melebihi kekayaan Ratu Elizabeth.

Di luar faktor eksternal yang memang perlu waktu untuk mengubahnya, sebenarnya keinginan untuk menghadirkan bacaan yang sehat bisa dimulai oleh setiap orang. Jika setiap orang dari bangsa ini mau berbagi pengetahuan, pengalaman, pandandangan, atau gagasannya lewat buku, maka perbukuan Indonesia akan meningkat.

Setiap orang  adalah Penulis
Supaya buku bisa menjadi milik semua orang, lantas apa yang perlu dilakukan? Salah satu kelemahan bangsa ini adalah kemalasan untuk menulis berbagai hal yang dialaminya. Itulah sebabnya budaya Indonesia sangat miskin dengan tradisi menulis dibandingkan dengan tradisi lisan. Dalam konteks ini, langkah yang dilakukan Andrea Hirata untuk menuliskan pengalaman dan pendapatnya lewat buku patut mendapat acungan jempol.

Pepatah Cina mengatakan, jika kita ini hidup puluhan tahun, maka tanamlah pohon; jika kita ingin hidup seratus tahun, maka menikahlah; Namun, jika kita ingin hidup seribu tahun, maka buatlah buku. Pepatah ini menjadi relevan, karena lewat bukulah kita mengenal pemikian-pemikiran tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara, dan tokoh-tokoh lainnya. Ki Hajar Dewantara melalui aktivitas menulisnya di  harian Kaoem Moeda, Oetosan Hindia, S.I. Surabaya, Tjahaya Timoer, dan lewat bukunya Als ik Nederlander was, telah menyebarkan gagasannya tentang dunia pendidikan.

Pengalaman guru-guru Indonesia pastilah sangat unik, beragam, dan penuh dinamika. Ditengah keterbatasan sarana, dana, dan akses, ternyata Indonesia telah melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Ki Hajar Dewantara, B.J. Habibie, dan lain-lain. Dan jika pengalaman ini diwujudkan dari pandangan seorang guru pastinya punya sisi yang berbeda dan impresif.

Untuk melahirkan tokoh sekaliber Ki Hajar Dewantara memang tidak mudah. Namun, melahirkan guru yang penulis rasanya bukan impian di tengah hari bolong. Dunia pendidikan sangat menarik dan penuh dinamika. Kalau Andrea Hiarata menulis dari pandangan seorang siswa, tentu kita juga berharap  seorang guru Indonesia bisa bercerita tentang dunia pendidikan dari kacamata seorang guru. Buku-buku karya Torey Hayden menjadi contoh menarik pergulatan seorang guru menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus.

Tantangannya: sudikah guru dan kalangan perbukuan berkolaborasi untuk melahirkan  guru yang penulis. Kalangan guru harus siap berbagi lewat buku, dan kalangan perbukuan harus berbagi keterampilan dan pengalamannya di dunia perbukuan  pada guru. Inilah pekerjaan rumah kita.

 

 
 
 
 

Qoute

 

“Jika kita mempunyai cita-cita dan melihat sebuah peluang, berteguhlah. Dengan cara itu, kita tidak hanya mencapai tujuan, tetapi menemukan sebuah keajaiban.”

 


 

Kesuksesan adalah hasil dari kesempurnaan,  kerja  keras, belajar dari kegagalan, loyalitas, dan ketekunan

Colin Powell, Mantan Menteri Luar Negeri AS