HK

 
 
You are here: Kronik Buku Keprigelan Seorang Editor
 
 

Keprigelan Seorang Editor

Surel Cetak PDF

hikmatkurnia-dkkOleh Hikmat Kurnia

Jika kita mempunyai cita-cita dan melihat sebuah peluang, berteguhlah. Dengan cara itu, kita tidak hanya mencapai tujuan, tetapi menemukan sebuah keajaiban.

Apa sebenarnya yang bisa dilakukan seorang editor dalam bisnis perbukuan? Pertanyaan itu kerap kali saya terima setiap kali diskusi tentang peran editor. Bisa jadi pertanyaan itu muncul karena kondisi lingkungan usaha penerbitan buku telah mengalami perubahan.  Pola penerbit lama yang menunggu naskah, menerjemahkan, sangat berorientasi produk, sangat tergantung pada proyek,  dan hanya mengandalkan nama besar (penerbit atau penulis) mulai bergeser.



Nama-nama penerbit yang pernah berjaya dalam kancah perbukuan bukan lagi jaminan mutu. Al-Maarif, Toha Putra, Mutiara Sumber Widya, atau Menara Kudus adalah contoh-contoh penerbit buku Islam yang pernah berjaya di zamannya. Di kalangan penerbit Kristen dan Katolik, nama-nama seperti BPK Gunung Mulia, Nusa Indah di Ende, atau Obor adalah nama-nama penerbit yang pernah sangat mewaranai dunia perbukuan Indonesia. Tentu saja nama seperti penerbit Djambatan, Pradnyaparamita, Penerbit LP3ES, Grafiti Press,  atau Balai Pustaka adalah nama-nama penerbit yang tidak bisa dilupakan dalam sejarah perbukuan Indonesia.

Penerbit-penerbit itu mengalami nasib berbeda. Ada yang masih berjaya,  sebagian  masih tetap survive, sebagian lagi pamornya mulai meredup, bahkan ada yang sudah tutup. Kini nama-nama penerbit baru bermunculan.  Kita tentu tersentak dengan fenomena penerbit Aqwam, penerbit “pinggiran” dari Solo. Buku terbitannya Misteri Shalat Subuh ternyata terjual lebih dari 200.000 eksemplar Sebelumnya kita juga menyaksikan larisnya buku-buku karya Aa Gym, sebelum tersiar kabar poligami, atau buku karya Ary Ginanjar tentang ESQ. Juga munculnya buku Mukjizat Gerakan Sholat yang mengalami cetakan beberapa kali.  Padahal sebelumnya, penerbit  Mizan sangat mewarnai penerbitan buku Islam. 

Kita juga cukup dikagetkan dengan munculnya penerbit Maxicom yang mengubah peta persaingan buku-buku komputer. Sebelumnya buku komputer sangat dikuasai oleh penerbit Elex Media Komputindo dan Andi Offset. Daya ledak buku terbitan penerbit baru  ini sangat luar biasa.

Dari Jogya muncul penerbit Galang Press yang mampu menghasilkan buku yang sangat kuat di pasar: Jakarta Undercover karya Moammar Emka. Buku ini mengalami puluhan kali cetak ulang. Kini peta perbukuan juga mengenal nama MediaPressindo sebagai penerbit yang layak diperhitungkan.   Sebelumnya kalau ingat Jogya, maka penerbit yang dikenal terbatas pada nama Kanisius.

Di buku pertanian juga muncul nama AgroMedia, selain Kanisius dan Penerbar Swadaya. Di buku fiksi muncul nama GagasMedia diluar nama Gramedia Pustaka Utama. Hal yang sama juga terjadi di penerbit buku sekolah. Nama Regina tiba-tiba muncul bersanding dengan nama-nama besar seperti Erlangga, Yudistira, Tiga Serangkai,  dan lain-lain.

Di luar buku-buku sekolah yang sangat terkait pada faktor “kekuasaan”, timbul dan tenggelamnya penerbit di Indonesia  memberi pelajaran pada kita bahwa skala usaha dan nama besar bukan lagi jaminan. Namun, kepekaan membaca pasar, jejaring yang luas,  dan kreativitas menghasilkan buku sangat menentukan daya survive sebuah penerbit. Celakanya, kedua hal itu sangat terkait dengan faktor manusia, apalagi ketika buku sudah ditempatkan sebagai produk industri. Sebagai produk industri, buku tidak melulu ditempatkan hanya sebagai sumber pengetahuan atau produk budaya. Buku ternyata bertali-temali dengan kebutuhan konsumen, ketepatan dan kecepatan distribusi, efektivitas promosi, penentuan harga yang tepat, dan pengelolaan sumber daya manusia.

Melejitkan Kreativitas, Membidik Pasar

Dalam asumsi bidang keredaksian sebuah penerbit yang berorientasi pasar  selalu ada keyakinan bahwa instrumen pemasaran yang utama adalah produk itu sendiri. Pengertiannya, bagian redaksi harus mampu menghasilkan buku yang memang berkualitas, judul yang impresif,  tampilannya menarik, dan tema yang sesuai dengan kebutuhan pembaca. Sementara dalam pandangan pemasaran, buku yang baik adalah buku yang dengan mudah dijual, mampu menjawab trend yang berkembang, harga yang kompetitif, dan stok yang memadai.

Dalam kondisi ini editor bisa memainkan peran yang sangat strategis. Alasannya, kreativitas itu urusan manusia dan notabene dimulai dari kerja editor. Artinya, editor yang baik tidak hanya berurusan dengan titik dan koma, tetapi bagaimana menghasilkan sebuah buku yang tidak saja baik secara kualitas tetapi mampu menjadi best seller. Editor jadinya dituntut lebih aktif,  tidak hanya menunggu kiriman naskah dari penulis.

Dengan tuntutan seperti itu, maka perlu penataan ulang kerja redaksional. Ini penting dilakukan supaya editor tidak hanya duduk di meja, tetapi mampu menggagas  buku hebat, membangun jejaring, dan peka terhadap pergerakan trend perbukuan. Di luar faktor itu, editor yang baik juga harus mampu menghasilkan buku pada saat yang tepat. Di sinilah pentingnya faktor kecepatan.

Munculnya buku Misteri Sholat Subuh, Mukjizat Gerakan Sholat, ESQ, La Tahzan, atau buku motivasi keagamaan dari Aa Gym, adalah varian baru dari buku-buku yang bertema keagamaan. Buku-buku agama ternyata tidak lagi melulu berurusan dengan urusan ritual atau keakhiratan. Buku-buku agama ternyata menjadi punya daya jual setelah dikaitkan secara jelas dengan urusan yang bertali-temali dengan kehidupan sehari-hari, mulai urusan membangun kedisplinan, kesehatan, motivasi, sampai etos kerja.

Konteks yang sama juga bisa dilihat dari buku fiksi. Menjamurnya buku chiklit dan teenlit beberapa waktu lalu juga mengindikasikan adanya pergeseran perubahan pasar.  Setelah hilangnya generasi Hilman Lupus dan Gola Gong, ternyata remaja Indonesia perlu bacaan yang sesuai dengan gaya hidupnya sekarang. Itulah sebabnya buku-buku fiksi remaja yang jadi best seller  kebanyakan ditulis oleh remaja seusia pembacanya. Ini terjadi karena bahasa tutur si penulis dan pembaca punya koridor yang sama.

Contonya lainnya adalah munculnya buku fiksi yang merupakan adaptasi dari skenario film.  Ini tentu agak berbeda dengan eranya Ashadi Siregar atau Edy D. Iskandar.  Novel-novel era kedua penulis itu setelah meledak di pasaran kemudian proses menjadi film. Era sekarang justru sebaliknya,  skenario  film justru dijadikan novel. Bahkan, waktu edar film dan terbit bukunya pun berlangsung hampir bersamaan.

Dari ketiga kasus itu terlihat jelas bahwa editor tidak bisa hanya duduk di belakang meja. Bergaul dengan komunitas yang sesuai dengan bidang garapannya menjadi mutlak. Untuk menghasilkan buku agama yang baik tentunya seorang editor harus bergaul dengan baik dengan ulama, pastor, pendeta, atau siapa pun yang paham masalah keagamaan. Begitu juga ketika masuk ke pasar remaja,  seorang editor  harus bermain di komunitas remaja.  Hal ini perlu dilakukan supaya kepekaan editor terasah, mulai dari urusan tema, bahasa, isi, perwajahan, ketebalan, sampai harga buku yang tepat.

Dengan masuk ke komunitas yang sesuai dengan bidang garapannya, seorang editor dengan serta merta mampu membangun jaringan kerjanya. Asumsi ini diperkuat dengan kasus novel adaptasi. Tanpa kenal dengan kalangan perfilman, rasanya seorang editor akan kesulitan menerbitkan buku yang berbasiskan film.  Selain karena faktor kedekatan, ternyata faktor kecepatan menjadi syarat multak. Hal ini terjadi karena masa edar film sangat pendek. Kalau masa edar film dengan waktu terbit sangat berjarak, maka buku hasil adaptasi ini menjadi ketinggalan zaman. Pengalaman GagasMedia membuktikan bahwa proses kerja dari menerima naskah skenario film dengan terbit buku paling lama punya tenggat satu bulan.

Kepekaan kerja redaksional juga bisa terlihat dari kasus masuknya AgroMedia kekancah perbukuan pertanian enam tahun lalu. Waktu itu pola buku pertanian tergolong telah mapan. Desain covernya umumnya hijau, ukuran bukunya 14,5 x 20,5 cm, dan bahasanya terlalu berat. Produk Agromedia tampil dengan desaian cover warna putih, tulisan mencolok mata sehingga mampu dilihat dari jarak 3 meter, dan diatasnya pakai list warna merah. Bahkan, ukurannya lebih besar 15 x 23,5 cm. Penyajiannya pun keluar dari pakem: ditulis dengan pola reportese dengan cara mewawancarai pakar dan praktisi pertanian. Harganyapun dipatok kurang dari Rp 20.000,-, karena yang disasar adalah kategori impulsif buyer. Dengan pola itu, display di toko buku menjadi sangat mencolok. Display yang baik ternyata menyebabkan daya serap yang baik.

Pelajaran lainnya adalah perpaduan sinergis antara pola kerja  jurnalistik dengan pola kerja perbukuan.  Supaya mampu menjawab tren yang berkembang, sebagai penerbit AgroMedia tidak boleh terpaku pada penulis yang ada. Selama ini ada keluhan bahwa Indonesia sangat kekurangan penulis. Kalaupun ada, perlu waktu lama untuk menghasilkan sebuah naskah. Kondisi ini tentu tidak kondusif, karena saat buku terbit bisa jadi trendnya sudah berubah. Oleh sebab itu, perlu ada upaya baru dalam menghasilkan naskah. AgroMedia menyiasatinya dengan memadukan kerja jurnalistik dan penerbitan. Kalau selama ini penerbit cenderung menunggu naskah, redaksi AgroMedia mengubahnya dengan menjemput bola, sehingga naskah bisa dihasilkan dengan cepat.

Faktor kecepatan kini sudah menjadi sebuah kecenderungan umum dalam industri penerbitan. Perhatikan maraknya buku tentang poligami ketika dai kondang Aa Gym beristri dua.  Sebulan setelah kejadian itu, di sebuah pameran buku penulis setidaknya menemukan 57 judul buku yang membahas poligami dengan berbagai sudut. Contoh lainnya adalah maraknya buku tentang IPDN begitu peristiwa kekerasan dalam kampus itu menjadi perbincangan umum. Di pasaran setidaknya ada 5 judul yang membahas tentang IPDN dan Inu Kencana.



Buku untuk Semua dan Milik Semua

Selama ini ada kesalahpahaman yang cukup parah di kalangan tertentu bahwa buku harus merupakan karya masterpiece dari si penulis, dan semakin tebal semakin berbobotlah sebuah buku. Jika kalangan penerbit mempunyai pemahaman yang sama, celakalah industri perbukuan kita.  Pemahaman itu bisa melemahkan motivasi kita sebagai penerbit, karena hanya kalangan tertentulah yang bisa menjadi penulis dan menerbitkan buku. Itu pun dengan jumlah yang terbatas.

Padahal, ketika buku ditempatkan sebagai industri kita harus melihat bahwa pasar itu tersegmentasi ke dalam kategori-kategori tertentu. Artinya, buku yang terbit pun bisa ditunjukkan untuk kebutuhan yang berbeda. Fungsi buku pun bisa sangat beragam, bisa sebagai sarana hiburan, sumber informasi dan pengetahuan, pemandu dan guru tanpa kelas,  atau sumber inspirasi dan motivasi. Artinya, ketika buku digagas, seorang editor perlu memikirkan siapa penulisnya, siapa pasar pembacanya,  cara bertutur, gaya bahasa, ketebalan, desain cover dan isi, sampai perkiraan harga jualnya. 

Pola pikir ini menjadi penting untuk mengukur daya serap pasar. Buku yang terjual kurang dari 3.000 eksemplar setahun biasanya hanya bisa diserap oleh kalangan sangat terbatas. Bisa dikategorikan dalam jenis buku ini adalah buku puisi atau buku yang hanya bersinggungan dengan ilmu tertentu, misalnya buku tentang taksonomi tanaman.  Namun, ketika buku berbasis pertanian mulai bersinggungan dengan kebutuhan ibu-ibu rumah tangga misalnya,  buku kategori ini bisa terjual  lebih dari 3.000 eksemplar per tahun, bahkan bisa mencapai lebih 20.000 eksempar pere tahun. Contohnya, buku-buku tentang tanaman hias, seperti Anggrek, Adenium, Euphorbia, Anthurium, dan lain-lain. Urusan ilmu pertanian di sini mulai masuk ke kalangan yang lebih luas. Namun,  jika sebuah buku mampu menyentuh kalangan awam, bahkan di luar penggemar buku, bisa jadi buku ini akan menjadi best seller. Jakarta undercover, Supernova, La Tahzan, The Power of Water, dan lain-lain adalah contoh buku kategori ini.

Masalahnya, sebagai penerbit seringkali kita tidak dalam kondisi sebagai leader. Kemampuan mengasilkan naskah yang orisinil memang sangat diperlukan, namun seringkai isu yang muncul sudah diambil penerbit lain. Untuk konteks ini barangkali kasus  buku Detik-detik yang Menentukan karya Habibie bisa jadi pelajaran. Buku ini memang menjadi pembicaraan, tetap ketersedian stok ditoko menjadi persoalan. Dengan strategi ATM (amati tiru modifikasi), beberapa penerbit mengambil manfaat dari kasus ini.

Dengan bidikan angle yang tepat, ternyata buku turunannya seperti Kontroversi “Kudeta” Prabowo; Habibie, Wiranto, dan Prabowo Bersaksi; Prabowo Sang Kontroversi; atau Perang Panglima mendapat antusias yang baik. Artinya, perkembangan trend juga bisa diamati dengan rajin-rajin ke toko buku dan membidik celah yang masih terbuka.

Dengan kesadaran bahwa buku harus dihasilkan dengan cepat, pasar yang tersegmentasi, perlunya jejaring yang luas, dan kepekaan membaca peluang, maka perlu penataan ulang pola kerja redaksional sebuah penerbit. Untuk menciptakan penulis, penerbit perlu  melakukan kerja pelatihan, kursus, dan pembinaaan penulis. Hal ini selain berkaitan dengan pengadaan naskah juga dengan penciptaan pasar. Dengan asumsi: untuk menulis satu buku seseorang minimal harus membaca 5 buku, maka dalam jangka panjang akan tercipta pasar buku yang baru. Guliran lanjutannya adalah buku menjadi milik semua orang, karena setiap orang akan akrab dengan buku. Mereka tidak hanya menjadi pembaca, tetapi sekaligus sebagai penulis.

Ketika faktor jaringan menjadi kunci dan tuntutan membaca trend menjadi keharusan, bagaimana sebenarnya stategi redaksional penerbit? Belajar dari berbagai kasus, ternyata kuncinya memang terletak pada keprigelan seorang editor. Namun, sehebat-hebatnya seorang editor dan seluas-luasnya jaringan yang dimiliki, seorang editor tetap punya keterbatasan dari sisi minat, pergaulan,  dan kemampuan. Oleh sebab itu, mengharapkan editor untuk paham semua kategori buku (versi Gramedia toko buku ada 38 kategori buku) adalah sebuah kesia-sian belaka. Lantas apa solusinya?

Karena urusannya terkait dengan keterbatasan, yang sekaligus jadi kekuatannya, maka menjadi penerbit spesialis adalah sebuah pilihan. Hanya dengan menjadi  penerbit spesialislah trend dapat dibaca kecenderungannya. Oleh sebab itu, bergaul dan terlibat dalam komunitas menjadi faktor mutlak bagi kelangsungan sebuah penerbit. Dari komunitas itulah trend tidak hanya bisa dibaca tetapi dibina jejaring pemasarannya. Dengan demikian, bagi penerbit kecil dengan kemampuan kapital terbatas jauh lebih menguntungkan menjadi penerbit spesialis daripada menjadi penerbit umum, karena selain memiliki keungulan dalam membaca trend juga lebih ramping dari sisi organisasi.

Lantas bagaimana dengan penerbit yang sudah besar? Mereka dituntut untuk merampingkan organisasinya dengan pembidangan yang lebih tegas. Hanya dengan cara itulah kelambanan dan kegemukan bisa dipatahkan. Selamat berkarya.

 
 
 
 

Qoute

 

“Jika kita mempunyai cita-cita dan melihat sebuah peluang, berteguhlah. Dengan cara itu, kita tidak hanya mencapai tujuan, tetapi menemukan sebuah keajaiban.”

 


 

Kesuksesan adalah hasil dari kesempurnaan,  kerja  keras, belajar dari kegagalan, loyalitas, dan ketekunan

Colin Powell, Mantan Menteri Luar Negeri AS