Oleh Hikmat Kurnia
Tidak ada pelaut ulung di laut tenang
Pepatah Bugis
Ketika Pemerintah mengeluarkan Permendiknas No. 2 Tahun 2008 hampir semua pelaku perbukuan pelajaran bereaksi sangat keras. Para penerbit yang berkonsentasi pada buku pelajaran ini mayoritas menganggap inilah lonceng kematian bagi usaha mereka. Topik ini kemudian menjadi bahan obrolan dan diskusi yang sangat “hot”. Bahkan, dalam ruang-ruang rapat Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Pusat atau daerah, isu ini hampir menjadi topik utama .
Bagi penerbit buku pelajaran Permendiknas ini memang sangat mengancam kelangsungan usahanya. Lewat Permendiknas ini peran penerbit diposisikan tidak lebih dari posisi percetakan. Peran penerbit hanya diposisikan sebagai lembaga yang bertugas menggandakan buku yang hak ciptanya dimiliki pemerintah. Ini menjadikan peran sebagai editorial (editor, desainer, lay outer, dll) dihilangkan. Pada posisi ini sebenarnya kelangsungan usaha penerbitan buku pelajaran masih berdampak terbatas.
Dampak yang sangat terasa justru pada penetapan harga buku. Ketentuan harga buku maksimal 30% dari harga buku rata-rata saat ini memang sangat sulit bagi penerbit buku pelajaran untuk berjalan pada rel yang normal. Para penerbit akan kesulitan mengikuti ketentuan ini. Harga tersebut bagi penerbit berarti memangkas biaya distribusi dan rabat. Harga itu hanya cukup untuk menutup biaya cetak dan sedikit “keuntungan”. Konsekuensinya, bagian pemasaran buku menjadi kehilangan energi. Mereka tidak punya cukup dana untuk mendistribusikan buku kepada end user. Disinilah titik pelik masalahnya.
Pertanyaannya bagaimana mengatasi kondisi tersebut? Para penerbit yang tergabung dalam IKAPI memang telah berupaya untuk menolak Permendiknas ini. Bahkan, Setia Darma Madjid sebagai Ketua IKAPI mengaku telah menyurati Presiden SBY yang berisi keberatan IKAPI atas permendiknas ini. Namun, hasilnya seolah-olah menembus tembok yang sangat tebal. Pemerintah menganggap kebijakan “Buku Sekolah Elektronik (BSE)” ini adalah langkah yang sangat mumpuni untuk pengadaan buku sekolah secara murah. Toh, naskah buku tinggal diunduh lewat jaringan internet dan siapa saja boleh menggandakannya.
Bagi pemerintah kebijakan ini telah final, tidak ada lagi perdebatan, dan penerbit tinggal mengikuti ketentuan tersebut. Walaupun begitu, para penerbit tetap berupaya menggoyang Permendiknas itu. Ikapi DKI Jaya melalui Pokja Buku Pelajaran misalnya, akan melakukan penelitian tentang dampak penerapan Permendiknas ini. Dengan bekerja sama dengan Universitas Indonesia, penelitian ini akan mencoba mengkaji keuntungan dan kerugian dari kebijakan tersebut, terutama bagi siswa sekolah.
Terlepas dari upaya-upaya politis yang sedang dan terus diupayakan kalangan penerbit, Permendiknas ini menyisakan pertanyaan mendasar: bagaimana penerbit buku pelajaran menjaga kelangsungan usahanya pasca diberlakukan Permendiknas ini? Pertanyaan ini menjadi penting karena dalam usaha penerbitan buku pelajaran bergantung nasib ribuan tenaga kerja. Sebagai contoh penerbit Erlangga sebagai market leader dalam pengadaan buku pelajaran selama ini sudah merampingkan usahanya dengan memberhentikan ratusan karyawannya. Bahkan, dalam sebuah forum diskusi, petinggi Erlangga sangat resah dengan kelangsungan hidup 2.500 orang karyawannya.
Melirik Pasar Umum (Retail)
Jawaban dari pertanyaan itu terletak pada kemampuan menata ulang strategi bisnisnya. Bagaimanapun esensi dari sebuah bisnis adalah kedinamisan: sebab bisnis lahir dari kemampuan membaca peluang, dan berkembang karena tanggap menghadapi perubahan yang terjadi. Binis yang stagnan berarti sebuah kematiin. “If yau don’t change, you die,” begitu kata mahaguru manajemen strategic Peter Drucker.
Bertitik tolak dari esensi tersebut, bisnis perbukuan seharusnya tidak boleh mati gara-gara Permindaknas ini. Apalagi, bisnis perbukuan tergolong bisnis yang berbasiskan kreativitas. Bisnis yang sangat mengandalkan kemampuan sumber daya manusia dalam memberi nilai tambah terhadap informasi yang dimiliki. Penerbit bukanlah percetakan yang hanya menggandakan naskah. Penerbit adalah bisnis yang menjadikan kertas-kertas menjadi barang yang bernilai karena memiliki infornasi yang sangat dibutuhkan oleh pembacanya. Karena nilai informasinyalah pembaca mau mengeluarkan uang untuk membeli buku.
Kita tentu semua paham bahwa selain buku pelajaran, dalam dunia penerbitan buku Indonesia mengenal jenis buku lainnya. Mengacu hasil penbelitian Ikapi DKI Jaya pada tahunn 2008, pnerbit yang tergabung dalam Ikapi DKI Jaya terdiri dari 25% bergerak dalam penerbitan buku sekolah, 22% penerbit buku umum, 21% buku agama Islam, 11% penerbit buku anak, 5% buku perguruan tinggi, dan sisanya penerbit buku hukum, manajemen dan lain-lain. Namun, kalau memperhatikan kondisi di lapangan, artinya yang secara konsisten bermain di pasar umum (retail) dan menjual bukunya di toko buku diperkirakan hanya 20% dari seluruh penerbit Indonesia.
Data ini menegaskan, selain buku pelajaran, ruang gerak untuk berusaha dibidang penerbitan masih terbuka lebar. Dengan jumlah penduduk mencapi 230 juta orang, seharusnya Indonesia merupakan pasar buku yang sangat potensial. Menurut pengamatan kasar, setidaknya di Indonesia ada 1.400 penerbit dengan berbagai skala usaha, dan sekitar 700 penerbit tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).
Berdasarkan rata-rata buku yang masuk di jaringan toko buku besar, seperti Gramedia sekitar 87 oulet, Gunung Agung sekitar 27 Oulet, Toga Mas sekitar 11 outlet, TB. Utama sekitar 12 outlet, dan Tiga Serangkai sekitar 16 outlet, setidaknya setiap bulan terbit 1.500 judul buku baru. Dari 1.500 judul tersebut, sekitar sepertiganya diterbitkan 20 penerbit besar.
Anthonius Riyanto dalam sebuah seminar di Ubud Writer & Reader Festival mengatakan: berdasarkan market share nasional diperkirakan jaringan toko buku besar ini menguasai antara 40% – 80% pasar buku nasional tergantung kategori buku, perilaku konsumen, dan harga jual. Di luar jaringan toko buku besar masih terdapat sekitar 1.165 toko buku independen. Dari jumlah tersebut sekitar 70% berada di Jawa dan Sumatera dengan keluasan rata-rata dibawah 100 m2. Sisanya tersebar di Kalimantan, Sulawesi
Berdasarkan wilayah pemasarannya, daya serap pasar per wilayahnya adalah: Jabodetabek 38%, Jawa Barat 8%, Jawa Tengah dan DI Jogyakarta 9%, Jawa Timur & Bali 12%, Sumatera 16%, dan sisanya 15% tersebar di Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Daya serap buku tersebut sangat tergantung kekuatan distribusi, jenis buku, dan harga. Dalam kasus ini yang perlu diperhatikan adalah keunikan wilayahnya, misalnya Wilayah Sumatera mampu menyerap 50% lebih buku-buku yang bertema perkebunan atau wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat adalah konsumen mayoritas (sekitar 70%) dari buku novel pop.
Yang perlu juga dipahami adalah pola distribusi buku di Indonesia. Setidaknya ada empat pola distribusi yang biasa dilakukan para penerbit. Pertama, memasarkan sendiri bukunya dengan cara membangun jaringan kantor cabang di daerah. Kedua, menunjuk distributor tunggal untuk memasarkan bukunya di seluruh Indonesia. Ketiga, menjual langsung ke konsumen tanpa melewati toko buku, misalnya penjualan buku pelajaran dan direct selling buku ensiklopedia. Keempat, pola distribusi campuran yang menggabungkan antara menjual sendiri ke toko buku di wilayah tertentu, menggunakan jasa distributor di wilayah lain, dan terkadang memasarkan langsung ke konsumennya. Pilihan pola distribusi ini sangat didasari karakter bisnis dan pilihan kategori bukunya.
Diluar aspek distribusi, dunia perbukuan Indonesia juga menunjukkan gejala yang baik dari sisi aspek pemasaran dan promosi. Pemanfaatan jaringan internet (milis, blog, google book search), surat kabar, radio, TV, talkshow, sinergi dengan industri lain misalnya film, adalah tren perbukuan Indonesia. Perhatikan meledaknya buku Kambing Jantan, Ayat-ayat Cinta, dan Laskah Pelangi.
Memperkuat Bidang Keredaksian
Di luar buku-buku sekolah yang sangat terkait pada faktor “kekuasaan”, timbul dan tenggelamnya penerbit di Indonesia memberi pelajaran pada kita bahwa skala usaha dan nama besar bukan lagi jaminan (perhatikan kasus Mutiara Sumber Widya, Djambatan, Grafiti Press, Pradnya Paramitha, Pustaka Kartini, dan lain-lain). Namun, kepekaan membaca pasar, jejaring yang luas, dan kreativitas menghasilkan buku sangat menentukan daya survive sebuah penerbit. Celakanya, kedua hal itu sangat terkait dengan faktor manusia, apalagi ketika buku sudah ditempatkan sebagai produk industri. Sebagai produk industri, buku tidak melulu ditempatkan hanya sebagai sumber pengetahuan atau produk budaya. Buku ternyata bertali-temali dengan kebutuhan konsumen, ketepatan dan kecepatan distribusi, efektivitas promosi, penentuan harga yang tepat, dan pengelolaan sumber daya manusia.
Dalam asumsi bidang keredaksian sebuah penerbit yang berorientasi pasar selalu ada keyakinan bahwa instrumen pemasaran yang utama adalah produk itu sendiri. Pengertiannya, bagian redaksi harus mampu menghasilkan buku yang memang berkualitas, judul yang impresif, tampilannya menarik, dan tema yang sesuai dengan kebutuhan pembaca. Sementara dalam pandangan pemasaran, buku yang baik adalah buku yang dengan mudah dijual, mampu menjawab trend yang berkembang, harga yang kompetitif, dan stok yang memadai.
Dalam kondisi ini bidang keradaksian (editor) bisa memainkan peran yang sangat strategis. Alasannya, kreativitas itu urusan manusia dan notabene dimulai dari kerja editor. Artinya, editor yang baik tidak hanya berurusan dengan titik dan koma, tetapi bagaimana menghasilkan sebuah buku yang tidak saja baik secara kualitas tetapi mampu menjadi best seller. Editor jadinya dituntut lebih aktif, tidak hanya menunggu kiriman naskah dari penulis.
Dengan tuntutan seperti itu, maka perlu penataan ulang kerja redaksional. Ini penting dilakukan supaya editor tidak hanya duduk di meja, tetapi mampu menggagas buku hebat, membangun jejaring, dan peka terhadap pergerakan trend perbukuan. Di luar faktor itu, editor yang baik juga harus mampu menghasilkan buku pada saat yang tepat. Di sinilah pentingnya faktor kecepatan.
Munculnya buku Misteri Sholat Subuh, Mukjizat Gerakan Sholat, ESQ, La Tahzan, Istikharah Cinta, atau Dahsyatnya Doa Ibu adalah varian baru dari buku-buku yang bertema keagamaan. Buku-buku agama ternyata tidak lagi melulu berurusan dengan urusan ritual atau keakhiratan. Buku-buku agama ternyata menjadi punya daya jual setelah dikaitkan secara jelas dengan urusan yang bertali-temali dengan kehidupan sehari-hari, mulai urusan membangun kedisplinan, kesehatan, motivasi, sampai etos kerja.
Konteks yang sama juga bisa dilihat dari buku fiksi. Menjamurnya buku chiklit dan teenlit beberapa waktu lalu juga mengindikasikan adanya pergeseran perubahan pasar. Setelah hilangnya generasi Hilman Lupus dan Gola Gong, ternyata remaja Indonesia perlu bacaan yang sesuai dengan gaya hidupnya sekarang. Itulah sebabnya buku-buku fiksi remaja yang jadi best seller kebanyakan ditulis oleh remaja seusia pembacanya. Ini terjadi karena bahasa tutur si penulis dan pembaca punya koridor yang sama.
Contonya lainnya adalah munculnya buku fiksi yang merupakan adaptasi dari skenario film. Ini tentu agak berbeda dengan eranya Ashadi Siregar atau Edy D. Iskandar. Novel-novel era kedua penulis itu setelah meledak di pasaran kemudian proses menjadi film. Era sekarang justru sebaliknya, skenario film justru dijadikan novel. Bahkan, waktu edar film dan terbit bukunya pun berlangsung hampir bersamaan.
Dari ketiga kasus itu terlihat jelas bahwa editor tidak bisa hanya duduk di belakang meja. Bergaul dengan komunitas yang sesuai dengan bidang garapannya menjadi mutlak. Untuk menghasilkan buku agama yang baik tentunya seorang editor harus bergaul dengan baik dengan ulama, pastor, pendeta, atau siapa pun yang paham masalah keagamaan. Begitu juga ketika masuk ke pasar remaja, seorang editor harus bermain di komunitas remaja. Hal ini perlu dilakukan supaya kepekaan editor terasah, mulai dari urusan tema, bahasa, isi, perwajahan, ketebalan, sampai harga buku yang tepat.
***
Dalam kondisi yang seburuk apa pun, dunia perbukuan Indonesia harus bertahan hidup. Gabungan antara kreativitas tenaga redaksi, kekuatan jejaring tenaga pemasaran, dan mental enterpreneurship pengelola penerbitan, adalah sinergi yang sangat hebat. Pengelola penerbitan tentunya sadar betul bahwa inti dari membangun usaha adalah sensitif dalam mengenali tantangan usaha dan kreatif mencarikan solusinya. Enterpreneurship bukan hanya aktivitas tetapi pola pikir,dan kehandalan kewirausahaan bukan ditentukan oleh skala usahanya, tetapi dari kerja keras, sikap optimis, dan kemampuan mengatasi masalah. Semoga dunia perbukuan Indonesia mampu berkembang bukan dari kebaikan hati pemerintah, tetapi dari kekuatan para pegiatnya. Selamat berkarya.


