Ketika novel karya Andrea Hirata Laskar Pelangi terbit dan menjadi perbincangan banyak kalangan, masyarakat disadarkan tentang potret dunia pendidikan Indonesia . Pembaca disuguhkan sebuah kenyataan di masa lalu tentang bukti adanya gap yang besar antara satu sekolah dengan sekolah lain di sebuah pulau yang kaya raya. Sekolah yang satu ternyata mendapat fasilitas yang serba baik, sementara sekolah lainnya serba kekurangan.Padahal, kedua sekolah itu berdekatan. Untungnya, murid dan guru sekolah yang serba kekurangan itu mempunyai semangat yang luar biasa. Keterbatasan tidak menghalangi mereka untuk melahirkan ide-ide kreatif.
Idealisme Bisnis Perbukuan
Hikmat Kurnia, Direktur Agromedia Pustaka
Saya lahir di Bandung pada 3 September 1967, dan menyelesaikan pendidikan S1 dari UNPAD Jurusan Sejarah tahun 1991. Saya tidak memiliki latar belakang keluarga pengusaha, karena ayah saya adalah seorang pegawai negeri. Semasa SMA, saya memang tinggal di rumah kakak yang seorang pedagang. Dari sinilah saya banyak belajar bagaimana melayani dan menata hubungan dengan orang lain, serta mendapatkan berbagai ilmu hidup lainnya. Setelah lulus kuliah, saya sempat mengajar sebagai asisten dosen selama enam bulan di almamater saya. Namun kondisi ini teramat berat. Di samping keuangannya tidak terlalu menggembirakan, peluang saya menjadi pegawai negeri masih lama. Karena itulah saya memutuskan turun ke Jakarta, dan kemudian mendapatkan pekerjaan di sebuah grup penerbitan yang juga menerbitkan majalah pertanian Trubus.



